Selasa, 15 Januari 2013

Makalah Manajemen Sekolah


BAB I
PENDAHULUAN

A.    KONSEP TEORITIS
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dikenal dengan beberapa istilah yang berbeda, yaitu tata kelola berbasis sekolah (school-based governance), manajemen mandiri sekolah (school self-manegement), dan bahkan juga dikenal dengan school site management atau manajemen yang bermarkas di sekolah. Istilah-istilah tersebut memang mempunyai pengertian dengan penekanan yang sedikit berbeda. Namun, istilah-istilah tersebut memiliki hakikat yang sama, yakni sekolah diharapkan dapat menjadi lebih otonom dalam pelaksanaan manajemen sekolahnya, khususnya dalam penggunaan 3M-nya, yakni man, money, dan material.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan suatu model pengelolaan sekolah yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi sekolah   untuk mengatur kehidupan sekolah sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan sekolahnya sendiri dengan mengaktifkan peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Dalam MBS, sekolah memiliki kewenangan luas untuk menggali dan memanfaatkan berbagai sumberdaya sesuai dengan prioritas kebutuhan aktual sekolah.

B.     KEADAAN DI LAPANGAN
Implementasi praktis dari konsep dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sangat bervariasi dari satu negara dengan negara lainnya, bahkan dari satu sekolah dengan sekolah lainnya. Hal ini sangat tergantung kepada sistem politik pendidikan dan kebijakan dasar sistem pengelolaan pendidikan yang diterapkan di negara yang bersangkutan.
Australia, misalnya, MBS dilaksanakan dengan mempadukan kebijakan dasar pendidikan pemerintah negara bagian dengan aspirasi dan partisipasi masyarakat yang dihimpun dalam wadah “School Council” dan “Parent and Community Association”.

C.     PERMASALAHAN
a.       Mengapa MBS perlu diterapkan dalam manajemen sekolah?
b.      Bagaimana strategi implementasi MBS yang efektif dan efisien?
c.       Bagaimana konsep MBS model Australia?
d.      Bagaimana pelaksanaan MBS di Indonesia?




























BAB II
PEMBAHASAN

A.    ALASAN PERLUNYA MBS
Departemen Pendidikan Nasional (2007: 3) merincikan alasan MBS sebagai berikut:
1.      Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah maka sekolah akan lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah
2.      Dengan pemberian fleksibilitas keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya, maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dala mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk menigkatkan mutu sekolah.
3.      Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.
4.      Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan.
5.      Pengembilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
6.      Penggunaan sumberdaya pendidikan lebbih efisien dan efektif.
7.      Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
8.      Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya.
9.      Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah yang lain dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya yang inovatif.
10.  Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkunyannya yang berubah dengan cepat.
B.     STRATEGI IMPLEMENTASI MBS
Implementasi MBS akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoperasikan sekolah, dana yang cukup agar sekolah mampu menggaji staf sesuai dengan fungsinya, sarana prasarana memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta dukungan masyarakat (orang tua) yang tinggi.Sesuai dengan tuntutan tersebut, BPPN dan Bank Dunia (1999) telah melakukan berbagai kajian antara lain telah mengembangkan strategi pelaksanaan MBS yang meliputi pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, pentahapan pelaksanaan MBS dan perangkat pelaksanaan MBS.
1.      Pengelompokan sekolah
Dalam rangka mengimplementasikan MBS, perlu dilakukan pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, dengan mempertimbangkan kondisi lokasi dan kualitas sekolah. Dalam hal ini sedikitnya akan ditemui tiga kategori sekolah, yaitu baik, sedang, kurang, yang tersebar di lokasi-lokasi maju, sedang, dan ketinggalan.
2.      Pentahapan implementasi MBS
a.    Tahap Sosialisasi
Tahap sosialisais merupakan tahapan yang penting mengingat luasnya daerah, terutama daerah yang sulit dijangkau serta kebiasaan masyarakat yang umumnya tidak mudah menerima perubahan karena perubahan yang bersifat personal maupun organisasional memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang baru. Dengan adanya sosialisasi ini maka akan mengefektifkan pencapaian implementasi Manajemen Berbasis Sekolah baik menyangkut aspek proses maupun pengembangannya di sekolah.
b.    Tahap Piloting
Tahapan piloting merupakan tahapan ujicoba agar penerapan konsep MBS tidak mengandung resiko. Efektivitas model ujicoba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas, akuntabilitas, reflikabilitas, dan sustainabilitas.


c.    Tahap Diseminasi
Tahapan desiminasi merupakan tahapan memasyarakatkan model Manajemen Berbasis Sekolah yang telah diujicobakan ke berbagai sekolah agar dapat mengimplementasikannya secara efektif dan efisien.
3.      Perangkat implementasi MBS
Implementasi MBS memerlukan seperangkat peraturan umum yang dapat dipakai sebagai pedoman. Perangkat tersebut antara lain:
a.       Kesiapan sumber daya manusia terkait dengan pelaksanaan SBM berupa sosialisasi, pelatihan dan uji coba SBM.
b.      Kategori sekolah dan daerah yang didasarkan pada jenjang sekolah, kemampuan manajemen sekolah, dan kriteria daerah.
c.       Peraturan/ kebijakan dari pusat dan pedoman pelaksanaan SBM.
d.      Rencana sekolah, yaitu program yang akan dilaksanakan oleh sekolah yang meliputi visi dan misi, tujuan umum dan khusus, nilai-nilai nasional dan lokal, dan prioritas pencapaiannya.
e.       Rencana pembiayaan sekolah yang disetujui Dati II.
f.       Monitoring dan evaluasi internal.
g.      Monitoring dan evaluasi eksternal.
h.      Laporan akhir yang disusun oleh sekolah dan Dewan Sekolah.

C.     MBS MODEL AUSTRALIA
1.      Konsep Pengembangan
MBS dilaksanakan dengan mempadukan kebijakan dasar pendidikan pemerintah negara bagian dengan aspirasi dan partisipasi masyarakat yang dihimpun dalam wadah “School Council” dan “Parent and Community Association”. Perpaduan dari dua kepentingan tersebut dibicarakan dan didiskusikan secara terbuka, dan hasilnya dituangkan dalam dokumen tertulis yang dijadikan pedoman bagi semua pihak terkait. Dokumen tertulis tersebut terdiri dari:
a.       School policy (kebijakan sekolah) yang memuat visi, misi, tujuan, dan sasaran-sasaran prioritas pengembangan program.
b.      School planning review, yaitu rencana jangka pendek atau menengah sekolah yang memuat berbagai rencana kerja sekolah untuk jangka waktu antara tiga sampai lima tahun,
c.       School planning quality assurance dan accountability, dilakukan melalui kegiatan yang disebut eksternal dan internal monitoring.
2.      Ruang lingkup kewenangan
Aspek kewenangan dalam MBS meliputi:
a.       Menyusun serta mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa bersama-sama deng SC dan P&G
b.      Melakukan pengelolaan sekolah.Sekolah dapat memilih antara ketiga kemungkinan, yaitu Standars Flexibility Option (SO), Enhanced Flexibility Option (EO 1), atau Enhanced Flexibility Option (EO 2)
c.       Membuat perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban
d.      Menjamin dan mengusahakan sumber daya manusia dan sumber daya (human and financial)
3.        Jenis Pengorganisasian MBS
a.       Standars Flexibility Option (SO)
Dalam bentuk bentuk ini peran dan dukungan kantor distrik lebih besar. Kepala sekolah hanya bertanggung jawab terhadap penyusunan rencana sekolah dan pelaksanaan pelajaran. Kantor distrik bertanggung jawab terhadap pengesahan dan monitoring serta bertindak sebagai penasihat dalam menyusun school planning overview.Dalam pengelolaan MBS tipe SO ini, pemerintah negara bagian memberikan petunjuk atau pedoman dan dukungan.
b.      Enhanced Flexibility Option (EO 1)
Sekolah bertanggung jawab untuk menyususn rencana strategis sekolah (School Planning Overview) untuk tiga tahun. Sedangkan kantor distrik berperan dalam memberikan dukungan kepada kepala sekolah dalam pelaksanaan monitoring internal dan menandatangani/ membenarkan isi rencana sekolah.

c.       Enhanced Flexibility Option (EO 2)
Keterlibatan distrik sangat kurang, hanya berperan sebagai lembaga konsultasi. Kantor pendidikan negara bagian menyiapkan isi kurikulum inti, menerbitkan dokumen silabus dan mengkoordinasikan tes standar serta melakukan school overview.

D.    IMPLIKASI MBS DI INDONESIA
Model MBS di Indonesia disebut Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). MPMBS dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, fleksibilitas kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. MPMBS merupakan bagian dari manajemen berbasis sekolah (MBS).
Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Sedangkan pengambilan keputusan partisipatif adalah cara untuk mengambil keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik dimana warga sekolah di dorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah. Sehingga diharapkan sekolah akan menjadi mandiri dengan ciri-ciri memiliki tingkat kemandirian tinggi, adaptif, antisipatif, dan proaktif, memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumber dayanya, memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja, komitmen yang tinggi pada dirinya dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya.






DAFTAR PUSTAKA

Hafis. 2010. Pengertian Dasar Manajemen Berbasis Sekolah.http://hafismuaddab.wordpress.com. Diakses pada hari Sabtu, 3 November 2012 pukul 14.30 WIB

 

Ratmiatin, Fitria Dewi Nur. 2011. Alasan dan Landasan MBS serta Konsep. Pengembangan Manajemen Masa Depan.http://edukasi.kompasiana.com.Diakses pada hari Rabu, 31 Oktober 2012 pukul 14.37 WIB

 

Sutomo. 2011. Manajemen Sekolah. Semarang: UNNES PRESS

Syamsuddin. 2012. Implementasi Dan Manajemen Berbasis Sekolah . http://syamsuddincoy.blogspot.com. Diakses pada hari Rabu, 31 Oktober 2012pukul 14.55 WIB

Wahidin, Dadan. 2009. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).http://makalahkumakalahmu.wordpress.com. Diakses pada hari Rabu, 31Oktober 2012 pukul 14.49 WIB

 




0 komentar:

Poskan Komentar

.............................. .............................
 

haidaroh faiqotul muna . Design By: SkinCorner